09 September 2011

Intina mah Serius Jon !

Ngopas tulisan nya Pak Arie (dosen saya di Itenas) yang di share di forum fb beberapa waktu lalu. *tulisannya rada saya edit redaksinya tanpa ngurangin esensi cerita* 
mahasiswa (m): "Pak...saya baru dapet project"
dosen (d):"ooooh bagus atuh...(dosennya orang sunda jadi make atuh)"
m: "saya ditanya berapa biaya gambarnya?"
d:"trus....."
m:"berapa ya Pak.....?"
d: "terserah kamu atuh...."
m:"saya malu euy bilangnya"
d:"kenapa atuh.....?"
m:"bisi kebesaran......"
d:"siga calana wae atuh sieun kaged...ean....."
m:" serius ateeeeuuuh Pak!"
d: "taaaaaah eta....intina serius atuuh makana......serius gambarna,serius presentasina,serius performena,serius cara ngaloby na........"
m:"emangnya saya nggak keliatan serius ya Pak?", 
d: "Coba inget-inget ownernya nanya apa sama kamu, 1.nanya biaya ngagambar atau 2.nanya anda harus saya bayar berapa, gambar mah murah....tapi kamunya yang mahal mah"
m: "peuuuuu...."
___________________________________________________________________
Bodor euy..jadi inget saya juga pernah ngalamin kejadian kayak cerita di atas waktu jaman kuliah dulu :P. Bingung waktu dapet projek perdana, n langsung nanya malu2 ke ruang dosen. Ada dua hal yang bikin saya galau, 1) Desain saya menjanjikan gitu? #minder 2) Nanti dibayarnya gimana? eh bakal dibayar nteu?aah... #mahasiswabutuhduitpisan.
jadi teringat pula tentang kisah seorang tukang kayu,
Seorang pria sedang pusing nyaris putus asa. Ia sedang berusaha menancapkan
paku di dinding kayu untuk menggantung hiasan tapi selalu gagal. Setiap kali
dicobanya, selalu gagal. Kegagalan itu meliputi: pukulan yang meleset,
pukulan yang terlalu keras yang mengakibatkan paku terpelanting, pukulan
yang miring yang mengakibatkan jarinya terpukul palu atau pukulan yang
mengakibatkan pakunya menjadi layu.

Akhirnya ia memutuskan memanggil seorang tukang kayu.

Dalam beberapa kali pukulan tuntaslah sudah paku itu menancap dengan gagah
dan mantap.

Ketika ditanya berapa tarifnya, ia pun menyebut Rp. 51.000. “Haaah….lima
puluh satu ribu?” si pria terkaget dan minta penjelasan.

“Ya, lima puluh satu ribu. Yang seribu untuk jasa memukul palu, yang lima
puluh ribu adalah untuk menentukan cara memukul yang tepat dan berapa
tekanan pukulan yang pas”, jawabnya enteng.
Pengalaman itulah yang dibayar mahal. Ia telah melakukan percobaan puluhan
ribu kali memukul untuk menentukan cara yang pas dalam keterampilan palu
memalu ini. 
 
Mulai saat ini, mari kita bertanya dalam diri, bahwasanya kita semua pasti  
punya keahlian dan akumulasi jam terbang untuk melejitkan karya yang kita 
capai. Lantas,berapa kita akan dibayar untuk keahlian itu?. Proses dan kualitas
yang akan menilai.Mari berkomitmen ama profesi, bukannya pelit buat ngeluarin 
karya atau dibilang mahal,tapi lebih membuat pemahaman kepada klien untuk 
tidak sekedar menilai selembaran kertas namun menghargai karya dan ide 
desainer seperti halnya tukang kayu tadi. 
 
 
Ah euy,saya juga masih belajar kok.... 
 
 
 
 
 
 
 
 
Salam senyum semangat desainer muslim muda Indonesia. 
Tetap konsisten berkarya :)

4 komentar:

Aditia A. Pratama mengatakan...

ternyata momen itu milik publik yah...semuanya pernah merasakan hal yg sama !!! hehehe :D

oryza mengatakan...

betul bro, banyak temen seperjuangan di sini ^^

An Maharani Bluepen mengatakan...

pas dunia kerja, An juga pernah ditanya...ente maw digaji berape? hehe...^^

oryza mengatakan...

@an :dan kelagapan mau jawab berapa yah heheee *tosdulu