29 Oktober 2009

Pornografi dan Kekerasan Naruto: Favorit Bagi Anak-Anak

 Sekarang, ini anak-anak mana yang tak mengenal Naruto? Tokoh komik dan film animasi ini (bahasa Jepangnya manga dan anime) sangat populer di kalangan anak-anak. Mereka menggandrunginya, seperti halnya Shinchan beberapa waktu lalu.
Namun sama seperti Shincan—dan notabene film dan novel asal Jepang lainnya, Naruto mengandung banyak sekali muatan pornografi dan kekerasan.

Jika situasi adegan menjadi benar-benar panas, para karakter di seri Naruto tidak jarang mengatakan “Damn!” (sialan, brengsek) dan “Bastard” (bajingan). Kedua kata ini memiliki makna yang kasar dalam bahasa Inggris.

Kekerasan mungkin yang paling kuat tentang Naruto. Menimbang bahwa Naruto adalah sesuatu yang diperuntukkan bagi anak-anak, jumlah kekerasannya sangat mengejutkan. Walau memang seri Naruto bercerita tentang Ninja, sehingga ada penggunaan seni bela diri kiri dan kanan, namun tingkat kekerasannya sangat melimpah. Ada banyak perkelahian dengan senjata tajam, dan banyak darah. Perkelahian itu bahkan menakutkan, dan cukup intens. Jelas bukan sesuatu yang sehat untuk anak-anak. Sedangkan adegan-adegan porno Naruto misalnya, dalam film kartun tersebut ada adegan Naruto sedang minum minuman keras, dikelilingi lima perempuan setengah telanjang. Lalu, Naruto yang sedang mabuk berkata; "Serasa di surga." Kartun Naruto juga memuat adegan berciuman dan adegan ranjang. Dalam Naruto juga ada adegan ia tengah mandi dengan seorang perempuan seksi dengan hanya mengenakan baju mandi yang sangat mengundang.Yang memprihatinkan, komik Naruto menempati urutan teratas yang dikonsumsi anak-anak.

Jadi, hati-hati jika membiarkan anak Anda menonton atau membaca Naruto. Lebih baik, pikirkan seribu kali sebelum mengizinkan mereka mengonsumsinya. (sa/berbagaisumber)

21 Oktober 2009

Narsis Dulu Ahhh

Narsis Dulu Ahhh

Three names I go by (besides given name)
1. Jaajaa..Jaaaak....
2. Anjang
3. Adek (like this hahaha)

4. Ye mama

Three Jobs I have had in my life

1. CEO Loetcu (my business handicraft in SMA)
2. Writer in Campus Mag
3. Drafter in Interior Consultant

Three Places I have lived
1. Surabaya
2. Batam
3. Bandung

Three Songs You Can't Stop Singing
1. Merah Saga
2. Princess Hours Ost - A Dancing Teddy
3. Lagu gerobak Susu Murni Nasional

Three Favorite drinks
1. Teh anget
2. Air putih dingin
3. Bajigur

Three TV Shows that I watch
1. News (with Jeremy Teti hohoho)
2. Acara Masak2
3. Opera van Java

Three places I have been (the 3 I liked most)
1. Madiun i'm lovin it
2. KL
3. Lombok

Three Places I want to go & have never been:
1. Korea oh Korea
2. Mecca
3. Puncak Jayawijaya -Irian


People that call me regularly
1. Mamas
2. Papas
3. si Mas

Three of my favorite foods
1. Krecek
2. Krupuks
3. Dendeng Balado

Three of my favorite books
1. Al Qur'an
2. Human dimention and interior space by Julius panero
3. My diary (yeaaay)

Three of my favorite movies [just three?]
1. Ar Risalah
2. August Rush
3. a Pursuite of Happiness

Three friends I think will respond (about me?)
1. independent
2. ceroboh
3. Jutek (hahahha)

Three Things I am looking forward to
1. Final Project
2. Find the Job
3. Married (o..ow..really it's the third priority?)

Three Things I Always Have Beside Me
1. Handphone
2. Wallet
3. Hand Sanitizer


Enough ahhhh ;)

20 Oktober 2009

Hanya ingin istighfar berkali - kali....


Masih terngiang kejadian tadi sore...
ingin istighfar berkali - kali....


aahh...saudara2ku...kenapa sih kalian....
berdebat bukan pada tempatnya
kalian2 yang kukira penuh dengan kedewasaan dan kelegowoan

ternyata melihat suatu masalah saja masih selalu subjektif
hanya berdasar pada nafsu dan lintas pikiran semata
ingin istighfar berkali - kali....


aahhhh

kenapa juga mesti ada orang2 seperti itu...
spontan saya tercetus berkata "begitulah, bedanya orang tertarbiyah dan tidak....fiuh,,"
semoga tak salah ucap...
ingin istighfar berkali - kali....


Sekali lagi kubertanya

kenapa juga mesti ada orang2 seperti itu...?
Yap, mungkin Allah menguji hamba-hambaNYA dengan ujian seperti itu
ingin istighfar berkali - kali....


aaahhh
untuk saudara - saudara seperjuanganku
mari rapatkan dan kuatkan lagi barisan



walau ku tak mampu berucap dan sekedar menganga
Aku hanya ingin istighfar berkali - kali....







*jadi begitu rupanya bila kaum adam sedang 'bersitegang'
 woooow....(sekedar...buang resah....gak maksud apa2)


17 Oktober 2009

Bila Gempa Itu Benar2 Datang...

Ada sebuah cuplikan artikel dari koran Pikiran Rakyat : 25 Mei 2007
"Kota Bandung dan sekitarnya terancam diguncang gempa besar berkekuatan 7,5 pada skala Richter (SR). Ancaman ini bisa muncul, jika terjadi pergerakan di sejumlah lempeng penyusun patahan Cimandiri-Lembang. Jika ini terjadi, gempa besar tersebut akan mengguncang cekungan Bandung . Selain Kota gempa Cimahi, Padalarang, serta Lembang, gempa juga mengintai sejumlah wilayah di Sukabumi, termasuk Palabuhanratu."


Hm.. well, jujur saja saya malah baru baca sekarang2 ini... ternyata berita Bandung akan terancam gempa dasyat sudah diprediksikan sejak beberapa tahun silam.....


Suatu hari. seorang teman bercerita pada saya bahwa semalam ada berita di tv yang membahas tentang gempa besar yang akan terjadi di Bandung, ternyata berita itu diangkat lagi ke permukaan pasca kejadian gempa yang akhir - akhir ini terjadi melanda negeri kita tercinta. Awalnya saya masih tidak percaya, toh... gempa memang sulit sekali diprediksi... walaupun para ahli bumi telah melakukan study dan riset mengenai gempa, namun sampai sekarang toh tak ada yang mampu menebak kapan persis gempa akan terjadi.


Teman saya mulai bercerita lagi, .. ternyata berita semalam itu sempat membuat risau dan kekhwatiran pada sebuah keluarga temannya teman saya (temen saya juga dink). jadi ceritanya, setelah mendengar kabar bahwa Bandung akan terkena bencana gempa besar, seluruh keluarga besar teman saya itu pun berkumpul dan melakukan suatu diskusi dan pembicaraan serius. Dan yang dibahas dalam perkumpulan keluarga besar itu adalah bagaimana mengkoordinasikan dan mengarahkan setiap anggota keluarga mereka ketika gempa benar2 datang. Kira2 begini kronologis pembahasan keluarga besar itu : Jadi bayangkan saja, ketika gempa benar - benar terjadi, tentu saja kemungkinan listrik padam dan saluran telepon dan seluler terputus bisa saja terjadi. dalam keadaan seperti itu, ketika sarana komunikasi tak bisa digunakan maka diaturlah strategi agar mereka tahu kemana tujuan mereka setelah gempa besar benar - benar reda, jadi diputuskanlah bahwa setiap anggota keluarga (dimanapun mereka berada) akan berkumpul bersama di suatu tempat , tepatnya di Gasibu (gedung sate), dan persisnya di suatu titik di Gasibu. jadi, nantinya mereka tak perlu susah2 lagi mencari2 sanak keluarga karena sudah direncanakan hingga sekarang. Kemudian pembahasan berlanjut hingga hal - hal teknis lainnya.


Awalnya saya yang mendengar cerita tentang keluarga teman saya yang sudah siap perang itu hanya tertawa dan geleng - geleng kepala, ... salut juga saya kepada keluarga itu... walaupun orang lain menganggapnya aneh dan sepele, namun ternyata ada kiranya dilakukan koordinasi terlebih dahulu ketika akan menghadapi suatu kondisi yang tidak memungkinkannya mereka untuk melakukan komuniakasi. Di balik itu, saya pun begidik ngeri juga...kalopun benar gempa besar akan datang dan saya masih di Bandung lantas apa yang akan saya lakukan?.


Akhirnya.... pikiran konyol saya mulai bermunculan, mengingat - ngingat harta paling berharga sekarang yang ada di kosan yang mungkin saja akan hancur bila gempa benar - benar datang, yah paling - paling cuma komputer set yang menyimpan banyak data dan memoar berharga di dalamnya, untuk  yang lainnya sepertinya sudah pasrah saya relakan begitu saja hihihi. Kemudian, persiapan perang kecil - kecilan hendaknya juga perlu saya siapkan. Jadi rencananya saya akan menyiapkan sebuah ransel yang berisikan barang - barang berharga dan penting untuk pertolongan pertama, sebut saja: surat2 berharga (duh apa ya... ijazah? piagam penghargaan ? hahaha), mushaf, voucher pulsa yang digosok2 tea, betadine, handiplast, pembalut  (hehe), camdig, handuk, jilbab langsungan.... dan tak lupaaaa buku diary tercinta ehehehehe......


Aduhaaai.... tak apelah melakukan persiapan perang dari sekarang... bilapun rumor gempa itu nantinya tak pernah ada, saya rasa tak ada salahnya juga menyimpan sesuatu yang dianggap perlu / darurat dari sekarang. yang jelas... segala sesuatu yang terjadi hanyalah rencana milik Allah semata, dan saya makin merasa seolah segala sesuatunya menjadi tak berharga.. materi2 yang sifatnya duniawi bisa saja Allah enyahkan begitu saja dalam sekejap.... namun bekal amalan kitalah yang sebenarnya harus dipersiapakan dari sekarang.... ah, umur manusia tak ada yang tau kan pren...




pst... jujur sampai sekarang entah kenapa saya masih sedikit trauma dengan hawa2 gempa... yah manusiawi lah... masih sedikit sensitif terhadap bunyi gemuruh..... tiap bunyi gluduk2x saya langsung shock, sedikit goncangan pun saya bisa kaget tiba2 dan tentu saja sampe sekarang saya tak bisa berlama - lama berada di kamar mandi...ntah kenapa....fiuhh....

09 Oktober 2009

Wortel,telur, kopi,..



Apakah kita sering bertanya mengapa kehidupan ini begitu berat?
Apakah kita kerap merasa putus asa dan hampir menyerah ketika mengahadapi suatu masalah?
Atau apakah kita telah merasa lelah untuk berjuang? Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru?.

Sejenak, mari kita simak sebuah kisah antara wortel, telur dan kopi. Tentulah kita semua tahu, seperti apa wujud dari ketiga benda yang saya sebutkan barusan. Yap..lalu mari bayangkan saja ketika ada tiga buah panci berisi air yang diletakkan di atas tungku api. Kemudian, kita taruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir, biarkan saja ia mendidih selama beberapa menit. Kemudian, mari kita sisihkan wortel dan letakkan di atas sebuah mangkuk, angkatlah telurnya dan letakkan di mangkuk yang lain, dan terakhir tuangkan kopinya di mangkuk yang lainnya. 

Lantas, apa yang kita lihat selanjutnya? Tentu saja, ketiga wujud wortel, telur dan kopi dengan rasa yang berbeda. Mari kit amati satu persatu, rasakanlah bahwa wortel yang tadi keras menjadi lunak. Kemudian, coba ambil telur yang telah direbus tadi dan cobalah untuk memecahkannya setelah membuang kulitnya, telur rebus tadi pun menjadi mengeras. Terakhir, cobalah cicipi kopi dalam mangkuk tadi, hmm.. sebuah kopi dengan aroma yang khas. Lalu, apa arti dari semua ini?. Tentu saja bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. 

Nah, jadi kita termasuk dalam golongan yang mana? Bagaimana cara kita mengahdapi kesulitan bila masalah berdatangan? Apakah kita menjadi wortel, telur atau kopi?"
Apakah kita adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatan kita.
Apakah kita adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kita adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kita seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarnya juga membaik.


Bagi seorang muslim, hendaknya kita harus berkeyakinan bahwa setiap masalah yang berdatangan pasti akan ada hikmah yang ingin disampaikan dari Sang Pemilik Alam kepada umatnya. Baik dari segala bencana kecil yang dialami oleh diri kita sendiri, maupun bencana – bencana besar, yang salah satunya merupakan teguran bagi umatnya agar senantiasa bertawakal dan berpasrah kepadaNya. 

Setiap hal yang kita lakukan pasti butuh perencanaan agar segala sesuatunya berjalan dengan semestinya, begitupula dengan segala rentetetan peristiwa yang terjadi di negeri kita ini juga merupakan secuplik episode yang telah direncanakan olehNya. Bencana gempa bumi yang terjadi di Tasik dan di Sumetera Barat baru – baru ini, mungkin saja menjadi sebuah teguran bagi bangsa Indonesia yang kian terlarut dalam mementingkan hal duniawi ditemani segala egositas dan kepentingan masing – masing, sehingga lalai akan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah. Ataukah bisa jadi, bencana gempa bumi merupakan cara Allah dalam memancangkan titik awal kebangkitan kehidupan masyarakat Jawa Barat dan Sumatera Barat. 

Kebangkitan sebuah peradaban hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia bermental kuat yang memiliki kesabaran luar biasa dan mempunyai kesungguhan dalam menyelesaikan berbagai beban tangung jawab. Amanah untuk membangkitkan peradaban membutuhkan manusia yang terbiasa mengatasi kesulitan dan rintangan dalam perjalanan kehidupannya. Amanah membangkitkan sebuah peradaban tidak dapat dipikul, kecuali oleh orang-orang yang terbiasa lebih mengutamakan tanggung jawab dari pada kehidupan santai dan mewah dan dari pada kesenangan dan godaan. 

Ada sebuah pesan yang dapat menjadi cambuk hati untuk kita semua, bahwasanya pada saat-saat tertentu Allah menggunakan cara-cara yang unik untuk mendidik kita. Allah memberi kita Kekuatan, dengan cara memberi kita kesulitan - kesulitan untuk membuat kita tegar. Allah memberi kita kebijakan, dengan cara memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Allah memberi kita kemakmuran, dengan cara memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Allah memberi kita Keteguhan Hati, dengan cara memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi. Allah memberi kita Cinta dengan cara memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Allah memberi kita Kemurahan Kebaikan Hati…dengan cara memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti. Semoga kita semakin mengerti ini, sehingga apapun yang terjadi, kita terus dapat tersenyum dan mengucapkan “Alhamdulillah” di hati dan di bibir kita dalam setiap keadaan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah: 5-6).

Jadi, apakah kita akan menjadi wortel, telur atau kopi? Silahkan pilih sendiri. 

(oryza_sativa)

01 Oktober 2009

Gempa dan Rumah Tradisional Sunda


Gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter pada 2 September 2009 yang berpusat di laut selatan Tasikmalaya membuat Pulau Jawa bergetar. Akibat khas dari gempa besar ini adalah banyaknya rumah yang hancur karena dinding dan atap runtuh atau gentengnya lepas dari reng, terutama di daerah yang dekat dengan episentrum.

Kebanyakan bangunan yang rusak tersebut adalah rumah tembok dengan atap genteng. Sementara rumah yang dibangun dengan cara dan material tradisional relatif aman, seperti di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut (Kompas, 14/9/2009).

Rumah-rumah tradisional Sunda, baik yang terdapat di dalam kampung adat, seperti Kampung Kuta, Ciamis; Kampung Naga, Tasikmalaya; Cikondang, Bandung; serta Desa Kenekes, Lebak; maupun di luar kampung adat umumnya berbentuk panggung. Bangunan tidak seluruhnya menempel pada tanah, tetapi dihubungkan dengan tiang yang disangga batu tatapakan yang berfungsi sebagai kaki.
Dengan demikian, ketika terjadi lini (gempa), getarannya diredam oleh batu tatapakan sehingga meskipun bangunan turut oyag (bergetar), rumah relatif dapat bertahan menerima beban getar gempa bumi sampai kekuatan tertentu.

Model rumah panggung dalam masyarakat Sunda tradisional terus dipertahankan. Salah satunya dasarnya adalah karena merupakan adaptasi dari kosmologi Sunda yang membagi jagat raya ke dalam tiga tingkatan: buana nyungcung, tempat para dewa atau Tuhan; buana panca tengah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya; dan buana larang, tempat orang yang telah meninggal, yaitu tanah.
Rumah dibuat berbentuk panggung agar buana panca tengah yang direpresentasikan oleh rumah (imah dan bumi) tidak langsung berada di atas tanah, tetapi harus diberi jarak. Bahan rumah tidak boleh menggunakan material berbahan baku tanah, seperti genteng dan bata, karena tanah tempat untuk orang meninggal. Dengan material bahan tanah, artinya manusia yang masih hidup telah dikubur.

Desain
Teori yang secara langsung dapat dianggap mendasari konsep desain rumah tradisional diungkapkan Karl Popper dan EH Gombrich berupa teori deterministik yang disebutnya logika situasi, yaitu bahwa manusia dibatasi oleh waktu, tempat, dan kondisi, yang meskipun demikian masih memiliki derajat kebebasan untuk mencapai tujuan alternatif. Umumnya, faktor alam, seperti iklim dan geografi-termasuk adanya gempa bumi-sangat relevan dalam pengembangan desain bangunan (John A Walker: 1989).

James Fitch dan Daniel Branch mengutarakan teorinya bahwa penentu desain dalam masyarakat primitif (tradisional) adalah lingkungan, seperti Eskimo dan Indian, Amerika Utara, bergantung pada material alam khas yang ada di lingkungannya. Salju bagi orang Eskimo dan kulit binatang dan ranting kayu bagi orang Indian adalah material yang dipakai untuk hunian mereka.

Agar dapat bertahan, mereka harus membangun hunian dengan material yang cocok dengan kondisi alam dan iklim lokal. Selain faktor alam, faktor pola hidup juga memberi bentuk terhadap cara manusia membangun model hunian. Masyarakat peladang berpindah akan berbeda dengan masyarakat petani sawah dan apalagi masyarakat industri dalam caranya mengembangkan hunian.

Masyarakat dengan lingkungan yang sering terjadi peperangan akan membangun benteng pertahanan. Belanda membangun rumah model mereka di Indonesia dengan bukaan lebar dan plafon tinggi untuk mengurangi hawa panas. Masyarakat dengan tanah yang sering gempa akan membangun rumah yang dapat bertahan dari getaran gempa. Rumah tradisional merupakan hasil dari kearifan pragmatis yang telah berlangsung berabad-abad.

Menurut Victor Papanek (1995), arsitektur vernakular-dalam hal ini bangunan tradisional-didasarkan atas pengetahuan praktis dan teknik tradisional, yang menunjukkan kualitas pertukangan tertinggi yang dimiliki. Struktur desain rumah tradisional cenderung mudah dipelajari dan dipahami secara teknis. Material yang dipakai sebagian besar diambil dari lingkungan sekitar.

Dari segi bentuk dan penggunaan material, bangunan tradisional merupakan solusi yang tepat dipandang dari segi ekologi dalam arti cocok dengan iklim, lingkungan-termasuk kemungkinan terjadinya gempa yang didasarkan pada pengalaman-dan cara hidup masyarakatnya. Rumah tradisional tidak bersifat menonjolkan diri, tetapi menyelaraskan diri dengan karakteristik alam sekitar.

Pembuatan rumah tradisional merupakan gabungan dari material, alat, dan proses. Dalam konteks desain tradisional Sunda, tampak bahwa setiap material yang dipakai memiliki karakteristik khas sehingga memerlukan alat khusus yang juga khas untuk mengolahnya melalui pembuatan dan pemasangan tertentu sesuai dengan sifat material dan kemampuan alat. Sifat material dan jenis bambu, misalnya, disesuaikan dengan sifat khas bambu tersebut. Bambu bersifat lentur sehingga dapat bertahan terhadap pengaruh getaran gempa bumi.

Perubahan
Bangunan tradisional dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat, terutama dalam tata cara mendirikan bangunan dan perhitungan atau aturan mendirikan bangunan berdasarkan budaya dan kepercayaan setempat, seperti perhitungan waktu yang tepat, arah hadap bangunan, lokasi, fengshui, dan berbagai upacara yang menyertai berbagai tahapan pembangunan.

Meskipun rumah tradisonal berakar pada nilai-nilai tradisional, menyimbolkan kontinuitas di dalam masyarakat, pada bagian tertentu tampak adanya sejumlah perubahan. Contohnya adalah rumah-rumah di Kampung Kuta, Ciamis. Material baru hasil industri seperti kaca, seng, dan kayu lapis secara terbatas telah dipakai, sementara model rumah panggung terus dipertahankan. Selain alasan adat, warga Kampung Kuta juga punya alasan teknis, yaitu karena tanah di kawasan itu labil dan solusi terbaik untuk kondisi alam tersebut adalah tetap dengan model rumah panggung.

Sekarang kita menyaksikan pengaruh pembangunan dan modernisme yang menempatkan model rumah tradisional sebagai sesuatu yang dianggap ketinggalan zaman sehingga perubahan model rumah tidak terelakan, khususnya di luar kampung adat.

Rumah panggung berganti dengan model rumah langsung di atas tanah, yang menyebabkan perubahan berantai: lantai papan berubah keramik, dinding bilik anyaman bambu diganti dengan bata, dan tembok dengan sistem fondasi dan konstruksi sebagian kurang memadai untuk dapat menahan gempa bumi.
Agar dapat bertahan dari goyangan gempa bumi, selain fondasi yang baik, dinding bata minimal memerlukan beton bertulang di sekeliling dinding bata sebagai pengikat struktur, berupa sloof, ringbalk, dan kolom praktis.

Sayangnya, rumah-rumah tembok di pedesaan jarang sekali yang menggunakan konstruksi demikian.

dikutip dari : Mang Jamal-Dosen Desain Interior Itenas

(dimuat Kompas Jawa Barat Rabu 30 September 2009)

Di suatu senja.....


Di suatu senja....
ditemani bisikan semilir angin melewati jendela masjid

dalam sebuah pertemuan singkat
menyambut wajah  - wajah sumringah yang menutupi pias lelah
mendekap erat tubuh - tubuh yang langkahnya penuh dengan ketulusan 
bersama dalam suatu ikatan...
betapa indahnya....


Di suatu senja...

dalam lantunan surat cinta dari Sang Kekasih..
tiap ayatnya mampu menggetarkan relung jiwa yang rapuh nan lelah
bersama merenungi untaian kalimat penyejuk qalbu...
betapa Sang Khalik nampak sayang pada hambaNya
seolah para malaikat pun turun dari langit dan ikut tersenyum sembari 
menyimak santun dengan seksama



Di suatu senja...
bermula dengan kisah sahabat terdahulu..
menggali makna terdalam...
merenungi kehidupan....
sesekali ada tangis... sesekali ada canda...
terbias indah tanpa batas...
qalbu - qalbu pun menderu...
menyatukan hati - hati kita...

Di suatu senja... 
yang lelah karenaNya
yang teguh pendirian karenaNya
yang rela berkorban karenaNya 
yang setia menapaki jejak seruanNya

untuk insan - insan  yang kerap merindukan surgaNya
semoga kita selalu berada dalam naunganNya
hingga saatnya tiba...


Di suatu senja
untuk saudara - saudara terbaik yang kucintai karena Allah
tetaplah terus melaju berjuang di jalanNya
Terima kasih ya Rabb... atas segala kesempatan yang Kau berikan
untuk mampu mendampingi mereka menuju jalanMu
walaupun hanya secuil serpihan yang mampu kusampaikan

dari manusia yang penuh dosa ini...



Di suatu senja...

penuh tumpahan cinta kupersembahkan untuk saudari2ku (Tih, Har-c,Meng) dari seorang 'teteh' yang penuh khilaf



29 September 2009

Kisah klasik...Virus Merah Jambu....


Saat kita memilih sesuatu, artinya kita berani untuk menerima segala konsekuensinya. Setuju?! begitu pula saat kita memilih untuk berjilbab, “berjanggut”,atau bergabung dengan LDK. Tentu banyak hal yang menjadi konsekuensi. Salah satunya adalah bagaimana kita menjaga hijab kita, cara kita bergaul dengan lawan jenis. Biasa, kalo yang pacaran adalah teman – teman kita, tapi kalo kita yang pacaran kasusnya jadi istimewa. Kenapa? Karena Allah juga udah ngasih keistimewan kepada kita, dengan mengenal Islam lebih dulu daripada teman – teman kita.. ada dosa yang akan kita tanggung saat kita mengetahui, bahwa hukumnya g boleh. 

Istilah VMJ [Virus Merah Jambu.red] adalah istilah yang akrab di kalangan para ADK [Aktivis Dakwah Kampus.red]. Kalo teman – teman kita akrab dengan istilah pacaran. Kita mungkin lebih sering mendengar istilah VMJ [atau sama2 sering?;D] Padahal….jelas banget konotasinya beda. Kalo namanya pacaran itu bukan virus lagi, tapi udah bisa dikategorikan penyakit. Mau gaya pacarannya liberal, atau gaya pacarannya islami, tetep aja hukumnya HARAM. Mau cuman smsan atau udah sampe pegangan tangan, tetep aja namanya PACARAN. It’s means g ada pacaran yang hukumnya HALAL.

Memang g ada asap, kalo g ada api. G ada akibat kalo g ada sebab. Trus…. Apa sebabnya ADK pacaran ? apa sebabnya ADK kena VMJ? Banyak jawaban, banyak alasan, ya..sesuai kondisi masing – masing orang.

Sedikit cerita, saat VMJ ‘harus’ terjadi. Mewabah di sebuah tempat/organisasi. Yup, saat seorang akh/ ukh terserang virus tersebut. Bukan hanya dirinya yang kalang kabut, tapi juga teman – teman di sekitarnya. Atau bahkan, terkadang….. orang yang kena virusnya adem ayem aja. Al – akh/ al-ukh disekitarnya yang dibuat pusing luar biasa. Hm..tapi sebelum membahas VMJ lebih lanjut, harus jelas dulu neeh sejauh apa seseorang dikategorikan terkena VMJ?

ANTARA SUKA dan VMJ
Ada yang bilang, kalo sekedar suka udah masuk kategori VMJ, and perlu dibasmi. Hm..masa seeh ? wah, kalo gitu seeh menentang fitrah. Kalo diliat – liat lagi arti VMJ secara ‘harfiah’, ya kepanjangan dari akronimnya itu sendiri, Virus Merah Jambu. Merah jambu or warna2 sejenis pink sering dikonotasikan dengan hal – hal yang sifatnya manis or so sweet. Artinya jelas, orang yang terkena VMJ adalah orang yang merasakan hal yang ‘manis2’ saat berinteraksi dengan lawan jenisnya. Ex: selalu merasa senang saat berada di dekatnya, mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, semangat datang syuro’/rapat karena ada dia. Minta tolong benerin computer aja ke dia [padahal ikhwan/akhwat lain juga bisa benerin]. Tugas kuliah susah, kayaknya si dia bisa bantuin deh…. Hm, ini sih selain kena VMJ kita juga kena syndrome cinderlella complex. Serba ketergantungan sama orang tersebut. Walaupun kadang2 ketergantungannya secara g langsung… “ketergantungan mikirin dia..” hati – hati lho.. kalo udah ‘ketergantungan’ kayak gitu, udah masuk syirik kecil tuh.. ntar Allah cemburu lho.. jatah kita untuk mikirin Allah, kerebut sama mikirin si dia…:D
Selanjutnya ciri dari orang yang terkena VMJ adalah g ngerasa salah dengan hal yang dia lakukan. Kalo antivirus kita on, virus merah jambu ini bakalan bisa langsung terditeksi, dan bisa ditangani dengan cepat. Yang jadi masalah adalah saat antivirus kita lagi off. Kita bakalan ngerasa g dosa saat lagi berkhalwat [berdua- duaan di tempat sepi], g ngerasa dosa sms g penting, atau chatting ngomongin yang g guna. Yup, kayaknya ‘enough’ ngomongin orang yang dapat dikategorikan VMJ. Kalo sebatas suka itu wajar, fitrah manusia. Tapi hati – hati dengan cara memanagenya. Beda tipis antara kagum/ simpati sama VMJ. Sama seperti beda tpisnya antara benci dan cinta. Warna merah jambu, indah kan? Tapi kalo udah ditambah kata virus depan kata merah jambu, konotasinya udah lain lagi dong… Sama dengan cinta, cinta juga indah. Tapi kalo udah dikasih bumbu maksiat, udah g indah lagi deh…

ANTARA VMJ dan PACARAN
Next…kita bahas bedanya antara pacaran sama VMJ. Nah, ini udah beda lagi bahasanyya. Seperti diungkapkan di awal, kalo yang namanya pacaran udah g bisa lagi dikategorikan virus, tapi udah disebut penyakit. Penyakit hati namanya. Tapi hati2 juga, nanti jadi menjurus ke penyakit 2 yang lain. Kayak penyakit mata, karena kita zina mata. Penyakit tangan, karena zina memegang. Atau kena penyakit insomnia? Karena kita g bisa tidur mikirin si dia. Bedanya VMJ dan pacaran adalah kalo VMJ hanya ada action dari satu pihak. Sang akhwat menarik perhatian sang ikhwan, atau sebaliknya. Tapi g ada respon dari lawan jenisnya. Kasian amat ya? Cape2 narik perhatian tapi orangnya cuek ala barat.. hanya dia yang merasakan, lawan jenisnya g tau apa2. Atau mungkin sama – sama tau, tapi sang ikhwan/ sang akhwat diem aja, g nanggepin.. Ya, kayak fans yang suka sama idolanya :tergila- gila. Beda sama pacaran, ada action dari dua pihak. Mereka punya jadwal rutin smsan, silaturahim ke kosan. Bahasanya seeh..bahasa islami. Smsnya nanyain udah tilawah atau belum. Besok shaum sunnah atau g? atau bangunin qiyamullail..HALLO?! padahal ke sesama saudaranya yang akhwat/ikhwan aja g pernah melakukan hal itu.

VMJ dan AKTIVIS CENTIL
Nampaknya memang harus ada yang dijaga agar kita terhindar dari virus yang ‘agak berbahaya’ ini.
Karena untuk sembuh dari VMJ, itu hanya karena rahmat dari Allah. Beneran deh, susah banget !! makanya sebelum kena virus itu, mendingan jaga diri dulu. Coba kita cek, diri kita masing – masing. Jangan – jangan sudah sering kita melakukan aktifitas yang menimbulkan ‘rasa ‘ kepada teman kita. Jangan – jangan selama ini, kita sudah bersikap sebagai aktivis centil. Tanpa kita sadari. Hm… siapa sih, aktivis centil itu? Menurut beberapa sumber, aktivis centil adalah :
1.Ikhwan yang suka nelpon-nelpon akhwat tanpa agenda yang jelas, lama banget, n mendayu-dayu, padahal sms saja bisa. Begitu sebaliknya, akhwat yang suka nerima telpon atau nyari-nyari alasan supaya bisa di telpon oleh ikhwan.
 

2. Aktivis yang memanfaatkan kepandaiannya dalam skill tertentu untuk menarik perhatian ikhwan/akhwat, misal skill memperbaiki komputer,HP, pemrograman, buat blog (site) dan buat proposal atau kerja teknis lainnya.
 

3. Aktivis centil yang sok perhatian ke lawan jenisnya, mempunyai belas kasihan yang terlalu berlebihan, padahal biasa-biasa saja sebenarnya bisa.
 

4. Ikhwan yang suka bercanda dan cair dengan akhwat,atau ngobrol yang tidak berkaitan dengan aktivitas dakwah. Bahkan terkadang mengatasnamakan dakwah, padahal g ada esensi dakwah sama sekali.
 

5. Ikhwan yang suka koleksi foto akhwat, dan lebih gila lagi, menjadikannya background atau screen server di komputer atau laptopnya. Begitu juga dengan akhwatnya, suka nyari-nyari kesempatan untuk bisa ngasihin fotonya ke ikhwan idolanya.
 

6. ADK yang suka chatting dengan lawan jenis, diskusi hal-hal yang ga perlu, dengan dalih dakwah di dunia maya, tetapi esensi obrolannya jauh dari nilai dakwah.
 

7. Dalam obrolan teman sesama ikhwan yang dibicarakan selalu seputar akhwat, minim membahas tentang ilmu dien, dan strategi dakwah. Akhwat pun juga punya kebiasaan begitu.
 

8. Sering berkunjung ke tempat akhwat, banyak sekali alasannya, entah mau pinjem buku,mau silaturahim, mau ngantar sesuatu, atau apalah tanpa ada alasan yang jelas. Akhwatnya selalu punya alasan untuk ngundang ikhwan berkunjung ke tempatnya, entah itu ngasih proposal, ngembaliin buku, perbaiki komputer/laptop, dll.
 

9. Suka tertawa terbahak-bahak ga karuan kalau lagi berkumpul sesamanya, padahal kelihatannya anteng & alim banget pas di depan akhwat & pas syuro’. Ga jauh beda dengan akhwatnya.
 

10.Aktivis centil suka curhat-curhatan dengan lawan jenis. Terutama masalah pribadi.
 

11. Aktivis centil dengan senang hati memberikan pinjaman atau bahkan hadiah kepada lawan jenis yang jadi idolanya, tetapi sangat pelit kepada saudara yang lain.
 

12. Aktivis centil ga risih berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
 

13. Suka sekali sms tausiyah padahal sebenarnya dia lagi kangen saja sama akhwat idolanya, gitu juga dengan akhwat genit suka sekali sms ikhwan idolanya. Menurut saya etika sms tausiyah,” sent to all”, ga ada spesifikasi untuk ikhwan/akhwat tertentu, atau untuk lebih berhati-hati ikhwan sms tausiyahnya ke ikhwan dan akhwat ke akhwat.
 

14.Aktivis yang jarang ikut kajian, tatsqif, ta’lim dsb. Tapi seolah mempunyai ilmu yang banyak. Terutama depan akhwat/ikhwan idolanya. Padahal baca buku juga jarang.
 

15. ADK yang berjalan suka jelalatan, klo ada lawan jenisnya yang melintas di depannya selalu memberi penilaian, “ ini 80, itu 70 … dsb”. Menilai seseorang itu sekufu atau tidak dengan dirinya.
 

16. Suka menjanjikan “ nikah “ kepada seorang akhwat padahal itu masih lama banget menikahnya, n yang terjadi akhirnya adalah back street.. akhwat pun dengan senang hati menjalani hal tersebut.

Biasanya aktivis centil, akan rentan sekali terkena VMJ. Masukkah kita ke dalam deretan aktivis centil itu ? dekatkah diri kita dengan VMJ ? atau sudah masukkah kita ke dalam orang yang ‘berpacaran’ ?

perempuan – perempuan yang keji adalah untuk laki – laki yang keji, dan laki – laki yang keji adalah untuk perempuan yang keji [pula]. Dan perempuan yang baik adalah untuk laki – laki yang baik, laki – laki yang baik untuk perempuan yang baik [pula]. “ Q.S.An – Nur : 26

Jika kita ingin mendapat pasangan yang baik, maka JADIKAN DIRI KITA BAIK. Jika seorang ikhwan mendambakan akhwat yang sholehah, maka ikhwan tersebut harus menjadi ikhwan yang sholih dulu. Bagaimana bisa seorang ikhwan mendambakan istrinya sekualitas Fathimah, sedangkan dirinya tidak sekapasitas Ali? Bagaimana mungkin mengharapkan istri setabah Hajar dan Sarah, jika dirinya tidak sekokoh Ibrahim. Akhwati…jika kita menginginkan suami sehebat Zubair, maka siapkan diri kita agar memiliki kapasitas seperti Asma binti Abu Bakar. Dan jika berharap suami seperti Muhammad SAW, maka mulai siapkan diri kita seperti tangguhnya Khodijah. Allahu Akbar!! [lho, koq jadi semangat banget? ;D]

Secara tidak langsung… jodoh kita adalah cermin dari diri kita sendiri. Kalo saat ini kita suka pacaran, sering kena VMJ. Masa iya seeh…kita mau pasangan kita waktu dulunya adalah orang yang doyan pacaran? G kan? Mulai sekarang, stop VMJ !!say yes to jaga izzah and say no to VMJ dan pacaran !!!

-sumber: notesnya DP KMI-

26 September 2009

Antara Kondangan dan Aksi....

Sekedar mengulang memori..
kejadian beberapa bulan silam...yang full of ukhuwah dan kebersamaan.. rindu masa - masa itu hadir kembali...
jadi, ceritanya.. saat LDK ku, Keluarga Muslim Itenas (KMI), mendapat undangan walimahan dari seorang alumni akhwat KMI . Ehm boro2 kenal, tau wajah aja juga gak pernah, coz emang si teteh alumni yang punya hajat walimah udah lama hengkang dari kampus sebelum angkatan 2006 yang keren2 ini masuk kampus n menjadi mahasiswa. .Hehehe....


Kebetulan acara resepsi walimahannya di Tasikmalaya. Secara, saya yang anak perantauan  belom pernah yang namanya travelling sampe ke Tasik. Ini kesempatan dan momen yang gak boleh disia - siakan,.. bersama dua sahabatku, si Evi n Ratih (Kita menjuluki diri kita 3 Diva.. ehmmm everyone in KMI was know it!) kita mengatur rencana dan strategi pemberangkatan. Uhm... itung2 skalian refreshing sebentar sebelum kembali memulai aktivitas dakwah di Kampus... Jadi critanya si Evi udah mulai cari sewaan mobil Apv  orInnova, ah pokokna nu aya ac na wae....jadi biar anak2 KMI bisa skalian jalan2 dengan nyaman ke Tasik, begono....


Namun, ketika hari H tiba.. ternyata mobil yang disewa tak kunjung ada, maklum aja. kalo gak salah hari itu bertepatan dengan hari libur sebelum 1 muharam, dan Bandung pastinya lagi rame - ramenya jadi tempat tujuan week end n wisata. Alhasil, kita yang telat nyari pinjeman mobil jadi gak kebagian sama sekali. Ehm.. padahal 3Diva waktu itu udah pol abis persiapannya, maksudnya udah niat berkostum ria buat kondangan. dan rencana yang disusun semula ialah, kita ikutan tasqif dulu di sebuah kampus di jalan Jakarta, kemudian mobil sewaan langsung jemput kita dan bablas ke Tasik. Ciauuuut... ternyata eh ternyata... rencana ideal gagal. 3 Diva pun sudah pasrah... rencana agenda gagal, tak jadi menghadiri acara walimahan...dan pulang tanpa harapan.... ihikzz... namun, tiba2  kepesimisan itu sirna....seorang Akh , sebut saj anamanya Akh Avatar (bukan nama yang sebenarnya) menawarkan opsi dengan menyewa mobil langsung di jalanan...alias nyewa angkot. O o.... kita yang awalnya nolak habis - habisan akhirnya manut saja.C Akh Avatar langsung saja menyetop sebuah angkot kosong, melakukan negosiasi profesional dengan bahasa sundanya.... dan taraaa... c mang angkot langsung menyetujui untuk membawa angkotnya bersama ke Tasik. Horaaayyy!!!!.


Maka terjadilah.... akhirnya kita para rombongan KMI yang berjumlah sekitar 6 orang (2 ikhwan, 4 akhwat) beserta Pak Sopir, akhirnya jadi juga menghadiri acara walimahan teh Gia dengan menunggangi angkot hijau Caheum Bionong. untung saja kondisi angkot yang dipilih lumayan comfort untuk diduduki. Hihihi.... Perjalanan Bandung Tasik yang memakan waktu hampir 4 jam ternyata tak menyurutkan niat kita. Walaupun macet di jalan luar biasa, dan terik matahari langsung menembus kaca - kaca geser angkot yang mulai memburam, kita pantang mengeluh... Karena kita semua yakin, di mana ada niat baik dan kemauan, di situ ada jalan dan kemudahan !!. Yuhuu...


Begitulah.... tak dinyana, ternyata berada di dalam kendaraan yang sisi ergonomisnya sangat kurang selama lebih kurang delapan jam membuat beberapa bagian belakang tubuh saya dan teman2 lainnya jadi pegal2 juga. Kayaknya emang habis ini perlu tukang pijat untuk memulihkan kondisi badan dan stamina. Begitu pikir kita.  Hingga akhirnya di tengah perjalanan pulang,sekitar pukul tujuh malam,  3 Diva tiba2 mendapat sms singkat dari Pak Mas'ul kampus: "Akh/ukh, besok ada aksi solidaritas Palestina di Jakarta, diharapkan perwakilan masing2 tiap LDK u/ berpartisipasi.Bisa ikut??. " begitu kira2 bunyi smsnya... tanpa pikir panjang, dengan semangat yang masih membara kita langsung menyanggupi, tiba - tiba sudah lupa begitu saja tentang rasa pegal2 dan kelelahan karena perjalanan jauh. Paling tinggal izin ke ortu kalo besok mau pergi lagi  ke Jakarta. Jadi kira2 saya sms begini ke my mom ; Mam, besok adek mau ikutan aksi solidaritas Palestina di Jakarta,..... . Mama saya yang lagi di rumah mungkin hanya geleng2 kepala ngeliat tingkah laku anaknya yang gak bisa standby seharian di kosan, dan kemudian langsung membalas sms saya: "Ya udah... tapi ntar adek gak ditangkep polisi kan? Kalo pada dikejar polisi... mama gak tanggung jawab ya..." . Nah lo, giliran saya yang ketawa - ketawa, si mama ada - ada aja......




Hari Ketika Aksi itu....


Esoknya,.. para pelajar n mahasiswa yang mau diberangkatkan ke Jakarta berkumpul terlebih dahulu di Pusda'i. Sayangnya, temanku Evi tak bisa ikut bepergian, uhm... biasalah... faktor IOTG (Izin Orang Tua Gitu). Alhasil, dari akhwatnya, Itenas hanya mendelegasikan 2 orang, saya dan Ratih. Maklum sajalah, kampus saya ini emang masih skala DK1. Jumlah 'kader' pun tentu saja bisa dihitung dengan satuan jari. Jadi untuk hal - hal seperti ini, kita sudah cukup biasa, makanya jumlah kader walau yang diberangkatkan cuma dua dari akhwat namun semangatnya tetap atas nama 20orang. hohohoh.... Nah loh, yang ikhwan apa kabar? biasanya sih suka lebih banyak jumlahnya... maklum saja, kampus teknik,kebalikan sama kampus2 pada umumnya. tapi.... eng ing eng... jumlah ikhwan dari Itenas yang berangkat juga gak jauh - jauh, cuma seorang. Wah... subhanallah memang, dengan modal membawa 1 panji, namun kekuatannya tampak seperti 10 orang kan?.  Hehehe...


Jadi begitulah, perjalanan menuju Jakarta pun dilalui dengan perjuangan panjang, setelah hampir disarankan gak usah ikut sama seorang panitia karena bis kuotanya tidak mencukupi, sampai harus duduk lesehan di bis yang overload pebumpang akhawt itu. Ehm,, itulah ibrohnya sehari sebelumnya saya udah latian melakukan perjalanan panjang  via angkot duduk samping.


The great moment,, alhamdulillah ketemu teman2 akhwat dari kampus lain,,, well, ternyata berkenalan bersama akhwat kampus gabungan lebih berasa ukhuwahnya,,,saya pun jadi terharu,, bertemu saudara2 baru,,banyak hikmah dalam perjalanan, maupun ketika aksi,,, Thanks Allah, sudah memberikan moment2 terbaik buat hambaNya yang lemah ini.

14 April 2009

BSS : Berhenti Syuro Sementara/Selamanya?


Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi... Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su'udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama'i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata "afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…" atau sms yang berbunyi "afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…" atau kata-kata berawalan "afwan akh…" lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah "Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini", mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat "minta cuti" lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab "Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun."

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.
Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata "afwan", "maaf" atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata "afwan", "maaf" dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.

Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.

Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata "afwan" yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata "Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini" tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah. Semoga…
 


(dari milis puskomnas)