16 Oktober 2011

Secangkir Kopi di Senin Pagi

Assalamu'alaykum,
Masih pagi, dan saya cuma mau cerita,
Selama  40 hari mulai dari bulan ini, ceritanya saya ngungsi sejenak ke rumah tante di Bintaro. Dapet amanah buat ngejagain rumah dan anak-anaknya selama Om dan Tante saya pergi ke tanah suci. Bude dari Klaten juga dateng buat menggantikan peran orang tua sementara sepupu saya ditinggal ortunya, dan saya sendiri dapet tugas ‘negara’ nemenin Bude n memastikan 2 sepupu saya yang masih SD itu untuk belajar n beresin buku untuk sekolah.

Jadilah,  tiap hari saya mesti berangkat lebih pagi untuk ke kantor dari biasanya, dan pulang jadi lebih larut karena jarak tempuh BSD-Bintaro walopun gak jauh-jauh amat tapi juga lumayan mengerahkan tenaga ekstra selama di perjalanan. Meninggalkan ‘zona nyaman’ sejenak, saya jadi belajar banyak hal selama mengarungi fase ‘ngungsi’ ini. Setiap hari ritual berangkat  kerja  menaiki commuterline selalu punya kisahnya sendiri. Pulang kerja diprogramkan untuk tidak lembur karena anak-anak udah nunggu di rumah #tsaah.  Bude tiap hari nyiapin bekal untuk makan siang saya (ampe niat beliin set2an tempat makan demi saya donk…terlampau sesuatu), dan kini saya mesti mencuri-curi waktu untuk  ‘lemburan malam hari’ setelah urusan’negara’ kelar. Yah pokoknya ini momen langka saya jadi anak rumahan setelah sekian lama ‘membebas’ di tanah orang sebatang kara :P.

Tak ada satupun kejadian tanpa hikmah yang terlampir di belakangnya.  Mengurusi dua anak laki-laki ternyata gak semudah yang saya kira. Adek sepupu saya keduanya laki-laki. Yang sulung kelas 6 SD, udah rada sregep (rajin) belajar n manut kalo dikasih tau ini itu. Giliran yang bungsu, keras kepalanya luar biasa. I don’t know, daya imajinasi nya terlalu kuat, tapi gak mau ngalahnya kelewatan. Maklum tabiat bungsu yang terbiasa  dimanja n harus dipenuhi apa yang dia inginkan…kalo nggak terpenuhi bakal terjadi amuk massa di rumah n semua kena getahnya, berabe dah ~,~.

Bener tuh kata pepatah, buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Karakter orang tua ternyata gak jauh beda sama anak-anaknya kelak. Anak kan cerminan dari orang tuanya juga...hayo coba deh evaluasi, karakter kita selama ini pasti mirip kan sama emak bapak kita?.  Buat yang belum dan yang sebentar lagi akan menjadi orang tua, mesti berbenah diri deh.. perbaiki akhlak, perilaku n ego demi anak-anak kita. Yang dulunya saya pikir, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya di rumah itu gak asik sekarang jadi berpikir ulang. Sosok ibu rumah tangga ternyata profesi yang paling luar biasa dan harus punya pembekalan ekstra, terlebih untuk mendidik anak-anak sejak dari lahir hingga dewasa kelak. Berikan waktu terbaik buat si buah hati, kalo diharuskan untuk bekerja ya mesti pinter bagi waktu, atau kerja rumahan aja kalo memungkinkan. Harapannya malah jadi PNS aja sekalian, siapa yang gak mau jadi PNS cung !! (baca: Pengusaha Nan Sukses). Urusan menikah (jiaah ujung2nya ngemengin nikah -_-‘) gak melulu urusan antar suami dan istri, tapi juga make life plan untuk anak-anak kita kelak, mau dibawa kemana mereka,mau jadi seperti apa, usaha apa yang harus dilakukan, n yang terpenting kita konsisten untuk menjalaninya. Eiimm teori mah gampang, prakteknya yang susah….

Baiklah, itu aja cerita saya, gak ada kata percuma atau sia-sia atas apa yang telah kau lakukan.Niatkan segala aktivitas kita untuk ibadah dan memohon ridho NYA, semoga menjadi berkah. Insya Allah.
Wassalam.


 oleh-oleh moment in lens :
 Berjuang naik KRL

14 Oktober 2011

La Tahzan



Ketika harapanmu tak sesuai dengan kenyataan
jangan bersedih kawan
Sesungguhnya Allah punya rencana terbaik yang sudah disiapkan

Ketika masalah kehidupanmu tak kunjung usai
jangan bersedih kawan
karena begitulah caranya Allah menaikkan derajat keimanan kita di matanya

Ketika tak seorangpun yang bisa kau ajak berbagi, 
jangan bersedih kawan,
Allah senantiasa online 24 jam, 
siap menampung segala keluh kesahmu 
dan memberimu pertolongan yang tak disangka-sangka

Ketika beban kehidupan terasa berat dan tak sanggup dipikul,
jangan bersedih kawan
Tak perlu pinta keringanan atas segala masalahmu
pintalah agar dikaruniai Allah pundak yang kuat 'tuk menanggungnya

Tak ada yang sia-sia
Semua akan baik-baik saja,
hingga pada waktunya,
cukuplah Allah sebagai penerang jiwa,
La Tahzan kawan 
:)


*setelah di'tegur' lagi dengan permasalahan, mari menghilangkan ego dengan legowo*

05 Oktober 2011

Rada Iseng

Rada iseng... buat 'sesuatu' untuk bloggerian n twipsmania  :D :




#menuh2incontentajaceritanya =D

03 Oktober 2011

Passport

Tulisan di bawah ini full saya copas dari tulisan yang di share dari millis tetangga, semoga dapat menumbuhkan semangat teman2 semua untuk bermanuver keliling dunia :) :

PASSPORT
by Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia 


_________________________________________________________________

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia kan keruh menggenang
(Al-imam asy-Syafi'i)

Inspiring habis baca novel Negeri 5 Menara + Ranah 3 Warnanya @fuadi1, plus perpanjangan paspor saya yang *akhirnya* udah beres juga, siapa yang mau ikut backpackeran ama saya? kita keliling dunia sama2 :D

28 September 2011

Jangan Menyerah




Jangan menyerah
untuk segala pengharapanmu
Bersama Allah
semua pasti ada jalannya

#note to my self
:)

*inspiring song by :D'Masiv- Jangan Menyerah
instumentalia by: me



27 September 2011

Random In the end of September

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are
wake me up when september ends
(Green-Day)

 i don't need more tears
let it disappear like the rain
becoming the hue of the beautiful rainbow
#monolog 
__________________________________________

i'm still here universe,
In the end of September with a stack of deadline :D

23 September 2011

Menjadi yang Aneh, Siapa Takut?

Menjadi muslimah yang memasuki dunia kerja

Gak ada yang aneh memang dengan kalimat di atas. Tapi coba kalau ditambahin dengan kata-kata :

Menjadi muslimah (yang berusaha) istiqomah yang memasuki dunia kerja

itu baru tantangan,setidaknya menurut saya pribadi begitu.

Zona dunia kerja memang jauh berbeda dengan dunia perkuliahan ,warning yang jadi wacana semasa jadi mahasiswa dulu memang terbukti adanya. Lingkungan kampus yang walopun heterogen tapi masih aman membuat kita jadi leluasa berkehendak n 'berekspresi'.Gak ada yang ngelarang kita mau begundalan atau jadi alim sejagat, paling cuma dapet cibiran-cibiran angin lalu saja, idealisme tak goyah soalnya temennya banyak juga :) :). Lain halnya dengan ranah dunia perkantoran yang penuh intrik,prestige n problematika di dalamnya (euh jiga sinetron weh). Yang mengharuskan pelakunya mampu survive,berkompetisi kalau tidak mau gagal melewati saringan alam.

Di lain hal,memasuki dunia profesi yang sesuai dengan bidang yang kita geluti dan minati pasti menjadi suatu kepuasan tersendiri. Setidaknya kita bisa bilang begitu karena ilmu yang kita tebus mahal-mahal selama ini kepake juga buat mengais rejeki.  :P :P. Tapi bagaimana ketika prinsip yang udah kita pegang teguh selama masa perkuliahan ternyata goyah karena kondisi lingkungan di dunia kerja? sayang sekali bukan.

Ehm, saya mau berbagi pengalaman ,suatu waktu, di kali pertama saya diajak meeting sama atasan saya di kantor apartmen di daerah Sudirman, Jakarta.Di perjalanan menuju ke sana, atasan saya  mulai cerita seputar bahasan pekerjaan ini dan itu, hingga sampai di topik tentang tanggapan pribadi atas kinerja dan penampilan saya..iyah penampilan. Kondisi atasan saya yang noni mungkin agak aneh dengan setelan 'akhwat' saya ini hohooho... yah jangankan noni, yang muslim aja kadang protes n bertanya-tanya kok.

Jadi atasan saya mulai bercerita, bahwa desainernya yang dulu bekerja di kantor itu, juga muslim,wanita muda seperti saya. Tapi dia itu kalo kemana-mana masih mau pake celana jins, kerudung trendi yang diiket2 (katanya) n bajunya tetap panjang n sopan. Jengjeeeng.... tapi semua berubah ketika negara api menyerang -____-'.. ahhaha bukan itu ding, jadi maksudnya, kenapa kok saya gak bergaya seperti itu saja? biar enak juga kalo ketemu klien nanti.

*oh jadi perempuan yang pake rok panjang n baju gombrong plus jilbab kegedean wara wiri di perkantoran n berstatus desainer itu selama ini dikatakan aneh oleh mereka n gak enak dilihat?"* cuma membatin.

Saya sebelumnya sudah mengira lontaran ini akan terjadi juga kepada saya (atau kepada muslimah2 yang sedang berusaha istiqomah di dunia kerja). Lantas atasan saya melanjutkan 'masukannya' tadi, "Yah itu balik lagi ke kamu Riz, sekali lagi saya memang gak tau agama kamu ngajarin yang sebaiknya gimana, saya cuma ngasih masukan aja loh ya".. Di saat itu Saya cuma bisa bilang, "Makasih Pak, memang saya sudah terbiasa begini n lagi berusaha untuk menjalani apa yang saya pahami dari ajaran agama saya". Atasan saya cuma ngangguk, dan nampaknya gak mau meneruskan topik sensitif ini. Tapi di balik itu, saya masih membaca ketidaksetujuannya terhadap penampilan saya.

Sekelumit kisah di atas bisa jadi juga dialami teman-teman saya yang lain dalam kondisi dunia kerjanya masing- masing. Tidak melulu dari sisi penampilan, bahkan ketika kita ingin melakukan amalan harian di kantor pun masih saja banyak yang 'melirik tajam'. Ehm jauh beda memang kalo kita bekerja di kondisi yang sudah 'terjaga' lingkungannya. Menjadi pekerja apalagi di ibukota,kata orang-orang yang sudah mengalaminya memang berat. Mesti mengkondisikan diri dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan gaya hidup manusia perkantoran padahal masih gak sejalan pula dengan keadaan finansial :)). Namun bertahan untuk tetap istiqomah saya rasa lebih butuh perjuangan lagi. Tetap melebur, tapi tak terwarnai.

Salah satu cara untuk tetap bertahan dengan gempuran 'serangan; tadi ialah dengan tetap senantiasa mengamalkan tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri). Dimanapun kondisi,waktu dan tempatnya, 'paksakan' diri untuk menginvestasikan waktu pada hal - hal yang bermanfaat, melakukan ibadah wajib tepat waktu n amalan sunnah, senantiasa menghadiri majelis ilmu,serta tetap bersilaturahim dengan orang-orang shaleh. Memang, langkah ini tak seringan dulu, makin banyak cobaan, waktunya habis tersita buat di kantor, makin ekstrem dibilang aneh kalo gak sejalan dengan kondisi yang ada, tapi kalo ada motivasi akhirat di balik segala kegiatan kita Insya Allah semuanya terasa mudah n menjadi sesuatu. -~_~- sama-sama mencoba nyuk aah...

Finally, impian saya punya biro konsultan sendiri yang terjaga n diisi sama orang-orang berskill n berakhlak mulia kayak novel diorama Sepasang Al Banna makin menggebu-gebu, kita tunjukkin deh pada dunia bahwa perempuan juga bisa beradikarya dengan tetap menjaga identitasnya sebagai muslimah sejati. *cihuy*


09 September 2011

Intina mah Serius Jon !

Ngopas tulisan nya Pak Arie (dosen saya di Itenas) yang di share di forum fb beberapa waktu lalu. *tulisannya rada saya edit redaksinya tanpa ngurangin esensi cerita* 
mahasiswa (m): "Pak...saya baru dapet project"
dosen (d):"ooooh bagus atuh...(dosennya orang sunda jadi make atuh)"
m: "saya ditanya berapa biaya gambarnya?"
d:"trus....."
m:"berapa ya Pak.....?"
d: "terserah kamu atuh...."
m:"saya malu euy bilangnya"
d:"kenapa atuh.....?"
m:"bisi kebesaran......"
d:"siga calana wae atuh sieun kaged...ean....."
m:" serius ateeeeuuuh Pak!"
d: "taaaaaah eta....intina serius atuuh makana......serius gambarna,serius presentasina,serius performena,serius cara ngaloby na........"
m:"emangnya saya nggak keliatan serius ya Pak?", 
d: "Coba inget-inget ownernya nanya apa sama kamu, 1.nanya biaya ngagambar atau 2.nanya anda harus saya bayar berapa, gambar mah murah....tapi kamunya yang mahal mah"
m: "peuuuuu...."
___________________________________________________________________
Bodor euy..jadi inget saya juga pernah ngalamin kejadian kayak cerita di atas waktu jaman kuliah dulu :P. Bingung waktu dapet projek perdana, n langsung nanya malu2 ke ruang dosen. Ada dua hal yang bikin saya galau, 1) Desain saya menjanjikan gitu? #minder 2) Nanti dibayarnya gimana? eh bakal dibayar nteu?aah... #mahasiswabutuhduitpisan.
jadi teringat pula tentang kisah seorang tukang kayu,
Seorang pria sedang pusing nyaris putus asa. Ia sedang berusaha menancapkan
paku di dinding kayu untuk menggantung hiasan tapi selalu gagal. Setiap kali
dicobanya, selalu gagal. Kegagalan itu meliputi: pukulan yang meleset,
pukulan yang terlalu keras yang mengakibatkan paku terpelanting, pukulan
yang miring yang mengakibatkan jarinya terpukul palu atau pukulan yang
mengakibatkan pakunya menjadi layu.

Akhirnya ia memutuskan memanggil seorang tukang kayu.

Dalam beberapa kali pukulan tuntaslah sudah paku itu menancap dengan gagah
dan mantap.

Ketika ditanya berapa tarifnya, ia pun menyebut Rp. 51.000. “Haaah….lima
puluh satu ribu?” si pria terkaget dan minta penjelasan.

“Ya, lima puluh satu ribu. Yang seribu untuk jasa memukul palu, yang lima
puluh ribu adalah untuk menentukan cara memukul yang tepat dan berapa
tekanan pukulan yang pas”, jawabnya enteng.
Pengalaman itulah yang dibayar mahal. Ia telah melakukan percobaan puluhan
ribu kali memukul untuk menentukan cara yang pas dalam keterampilan palu
memalu ini. 
 
Mulai saat ini, mari kita bertanya dalam diri, bahwasanya kita semua pasti  
punya keahlian dan akumulasi jam terbang untuk melejitkan karya yang kita 
capai. Lantas,berapa kita akan dibayar untuk keahlian itu?. Proses dan kualitas
yang akan menilai.Mari berkomitmen ama profesi, bukannya pelit buat ngeluarin 
karya atau dibilang mahal,tapi lebih membuat pemahaman kepada klien untuk 
tidak sekedar menilai selembaran kertas namun menghargai karya dan ide 
desainer seperti halnya tukang kayu tadi. 
 
 
Ah euy,saya juga masih belajar kok.... 
 
 
 
 
 
 
 
 
Salam senyum semangat desainer muslim muda Indonesia. 
Tetap konsisten berkarya :)

08 September 2011

Tanjung Pinang Trip

Nyaris 2 minggu ceritanya saya ngilang sejenak dari pulau Jawa, meninggalkan segala kehectican dan keriuhan *pinggiran* ibukota. Udah diniatin mudik kali ini gak bakal bawa kerjaan, 'coz  I've promised to spend my quality time for family and old friends only :P.

So, alohaaa Batam, kita berjumpa lagi di penghujung ramadhan tahun ini. Walopun pulau secuil kaya potensi ini bukan kampung halaman saya, tapi hampir dari seluruh bagian dari perjalanan hidup saya, menorehkan jejak sejarahnya di sini.

Edisi balik kampung eh pulang ke rumah tahun ini banyak meninggalkan cerita dan hikmah tersendiri. Seiring berjalannya waktu, beberapa kisahnya akan saya tulis kembali (menanti mood-buster yang muncul segan hilang tak mau). Do'akan aja yah, moga bisa istiqomah menulis :).

Kali ini saya mau berbagi cerita liburan edisi travelling ke Pulau Seberang, Tanjung Pinang. Sebenernya ini dalam rangka tugas dinas juga, ketemu klien saya yang emang lagi ada proyekan di sana. Udah kadung janji soalnya ama Pak Agung, -Bapak Owner KaosPinang yang ternyata juga kakak senior saya di jaman SMA dahulu kala- kalo ke Batam saya bakal nyamperin ke TKP  buat diskusi lebih lanjut n ngukur ulang outlet yang mau di re-design. Dan akhirnya... saya kesana kemarin bersama seorang sahabat buat nemenin. ~jangan kapok ta'culik yah eceu Linda :)).

Perjalanan dari Batam ke Pinang cuma makan waktu lebih kurang lebih 1 jam dengan menaiki kapal ferry dari Pelabuhan Telaga Punggur Batam. Ongkosnya hanya Rp. 40.000,- per sekali jalan. Begini asiknya jadi anak pulau, kemana2 ya mesti nyebrang lautan. Tapi karena udah hampir 4 tahun gak naek kapal, rada kliyengan juga untung gak sampe mabok:s. 

Pas di pelabuhan, udah langsung di jemput Pak Agung (kopdar perdana juga ceritanya..hehe...). Kita langsung tancep gas ke TKP, outlet KaosPinang di KM.7. Keren juga nih Bapak, bisa nyulap rumah kecilnya buat jadi outlet, sebelumnya pake modal jualan online, sekarang bisnisnya udah lumayan maju juga di sini, jadi trendsetter n perdana bikin bisnis oleh2 Kaos bijak ala Pinang. Setelah ngukur sana-sini, sebelum pulang, saya n temen saya nyempetin beli beberapa kaos buat oleh2. Asik dah, berasa turis beneran kan kita. Makasi buat Pak Agung n fams buat sambutan n jamuannya, kami berasa berkunjung ke rumah sodara sendiri loh. :)

Sayang rasanya kalo cuma tugas dinas trus pulang lagi. Akhirnya kita putuskan untuk muter-muter keliling kota n berkunjung ke tempat wisata yang ada di sini. Sebenarnya, Tanjung Pinang yang masih bagian dari pulau Bintan n sekarang jadi ibukota provinsi Kepri ini punya stok pantai eksotis n ciamik buat dikunjungi, diantaranya Pantai Trikora n Lagoi. Tapi karena waktu udah terlalu sore, n ngerasa berdosa kalo gak ngajakin keluarga juga kesana, akhirnya kita memutuskan untuk singgah sejenak ke Pulau Penyengat saja. (Nb: Dua pantai itu  udah di book-marked buat edisi jelajah tahun depan atau buat target hanimun :P)

Untuk mencapai pulau yang bersejarah bagi masyarakat Kepri ini, kami mesti menggunakan transportasi laut dari pelabuhan utama. Kalo di Indonesia umumnya bernama sampan, di sini lebih beken dengan nama Pongpong *semacam odong2 kalo di dunia angkot mah*. Tarifnya cuma 5000 perak per sekali jalan.Pulau yang berukuran kurang lebih hanya 2.500 x 750 ini jaraknya kurang lebih 6km dari Tanjung Pinang. Tapi gak nyampe 15 menit juga udah nyampe kok. Iya sih kayaknya sebentar, tapi ternyata pas di atas Pongpong berasa lama banget, makin memacu adrenalin kalo si Pongpong pas papasan ama kapal gede... Eaaaa...ombaknya itu lho yang bikin seru2 ngeri gimanaa gitu.


Kaget waktu menginjakkan kaki lagi ke Penyengat. Karena masih musim liburan, di dalam pulau ini jadi rame banget dengan penjaja makanan,minuman,mainan, hingga souvenir2. Belum lagi, spanduk-spanduk tokoh masyarakatnya bikin jadi tambah semrawut. Ayok ah pemerintah setempat... ditata lagi ini aset wisata sejarahnya :P.

Yang jadi obyek wisata utamanya yaitu Masjid Raya Sultan Riau atau lebih dikenal dengan Masjid Penyengat. Sedikit cerita, yang menarik dari masjid ini adalah digunakannya putih telur sebagai campuran semen untuk dinding masjid. Mesjid ini di bangun pada tahun 1832 pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman, pembangunan mesjid ini dilakukan secara bergotong royong oleh semua masyarakat penyengat pada masa itu. Warna kuning yang mendominasi bagian bangunan masjid merupakan ikon warna asli Riau, menyimbolkan keemasan-kejayaan. Sedangkan warna hijau merupakan simbol dari kesuburan. 

Selain masjid Penyengat, di pulau yang udah mulai banyak penduduknya ini juga tersimpan peninggalan balai adat dan makam - makam Raja Riau, salah satunya makan Raja Ali Haji yang terkenal dengan syair Gurindam 12 nya yang mendunia itu. Nah kalau mau berziarah atau sekedar muter-muter pulau, kita bisa pake jasa sewa ojeg becak di sini. Tapi karena udah terlalu sore, kami memutuskan untuk  berkeliaran di sekitar masjid saja sambil icip2 kuliner yang dijajakan di sini. 



Sebelum beranjak dari Pulau Tanjung Pinang ini, jangan lupa untuk membeli buah tangan panganan khas dari sini, apalagi kalo bukan otak -otak (ikan, cumi or udang) n aneka keripik (Singkong,pisang,bayam,dll). Para pedagang ini udah mulai bertebaran di sekitar pelabuhan utama Tanjung Pinang. Harga otak-otaknya mulai dari Rp.500,-/buah, n keripik2nya mulai dari Rp.15.000,-an per bungkus (kisaran 1/2 kg).  

Menjelang magrib, akhirnya kami sampai kembali ke Pulau Batam,perjalanan singkat yang menyenangkan. Sembari menyusuri perjalanan menuju rumah kembali dengan syukur nikmat tak terkira, moga di lain kesempatan bisa berbagi kisah perjalanan dengan tempat jajahan baru :).


*proyeknya cepet dikelarin yah Jaja'* NTMS.
_____________________________________________________________
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tidaklah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihatlah pada ketika bercampur dengan orang ramai
- Gurindam pasal 5-

23 Agustus 2011

Selamat Jalan Ramadhan


Sudah berbuat apa untuk ramadhan kali ini?
Prestasi terbaik apa yang kau torehkan kawan?
Sudahkah kau hidupkan malam - malammu untuk bermesra dengan Rabb semesta alam?
sudah berapa juz yang khatam ?
Apakah terperangkap dengan kesenangan duniawi ?
Atau terbuai dengan beban pekerjaan yang memakan waktu di sepanjang harimu hingga terlalai merasakan kelezatan iman?
Bagaimana dengan sedekah,infaq dan amalan kebaikanmu?

Sebentar lagi Ramadhan pergi,
Belum terlambat untuk berbenah,
masih ada waktu untuk memohon ampunan dengan segala pinta
masih tersisa beberapa hari untuk memompa semangat ini
melantukan bait-bait kitab suci, bersujud dan menyebut asma MU

semoga kita bisa bertemu lagi di Ramadhan yang akan datang 
dan mampu berbuat lebih dari Ramadhan tahun ini.

-ntms-
_________________________________________________

Sudah ada yang rindu di rumah sana,
bagi yang berkesempatan mudik, selamat bertemu orang terkasih tercinta,
tak melulu membawa buah tangan,
semoga kehadiran kita membawa harapan

sebelum mudik, mencoba buat kartu lebaran pake tema interiot :)
[layout, design n rendering by: oryza ]